Agen BandarQ Terpercaya Situs Poker Online
Agen BandarQ Terpercaya Situs Poker Online
You are here
Home > Cerita Dewasa > Tania, Si Budak Seks Dosen Pembimbing ( Chapter 1 )

Tania, Si Budak Seks Dosen Pembimbing ( Chapter 1 )

Cerita Seks Dewasa – Namaku Tania, 23 tahun. Saat ini aku merupakan mahasiswi tingkat akhir di salah satu universitas ternama di Bandung. Tubuhku tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 160 cm. Dengan berat badan 50 kg, badanku memiliki lekuk tubuh yang lumayan seksi.

Sekarang aku merupakan mahasiswi tingkat akhir. Mengambil jurusan teknik, aku harus melakukan berbagai penelitian dengan biaya yang tentunya tidak sedikit. Karena aku termasuk orang yang hobi belanja dan jalan-jalan, seringkali uang jajanku habis dalam sekejap. Hal ini membuat tugas akhirku berjalan dengan sangat lamban.

Awalnya aku santai-santai saja, tapi setelah aku sadar bahwa aku hanya punya sisa waktu satu semester, aku mulai kewalahan. Kalau aku tidak berhasil lulus di semester depan, aku akan di-DO oleh pihak kampus.

“Duh, gue bingung nih Nat.” curhatku pada sahabatku, Natalia. “Duit gue udah abis buat belanja-belanja kemaren.”

“Elo sih Tan, susah dikasihtau. Udah gue bilang kan, gak usah keseringan belanja. Liat tuh sekarang.”

“Ya gimana lagi. Liat nih tas gue, lucu kan?” aku memamerkan tas Gucci baruku pada Natalia.

Natalia memutar bola matanya. “Terus sekarang lo mau gimana? Ngelelang tas Gucci lo gitu?”

“Enak aja, ogah gue.” aku cemberut pada ide Natalia. “Gak ada cara lain apa?”

Natalia menaikturunkan bahu. “Gak ada yang instan, Tan. Mending lo ngomong dulu sana sama dosbing lo kalo duit lo abis.”

Ah, benar juga, pikirku. Aku belum mencoba mendiskusikan hal ini pada dosen pembimbingku.

“Yaudah deh gue temuin dosbing gue ntar. Kalo gue gak dapet keringanan, gue pinjem duit lo ya Nat.”

“Kurang ajar emang lo.”

Aku berdiri di depan ruangan dosen pembimbingku. Setelah mengumpulkan tekad dan mempertimbangkan kata-kata apa yang akan aku kemukakan, aku berniat untuk menemui beliau. Aku mengetuk pintu tiga kali dan menunggu dengan gelisah.

“Ya, masuk.”

Aku merapal kalimat-kalimat penguat di dalam hati. Duh, semoga saja dosen pembimbingku tidak marah.

Aku membuka pintu ruangan perlahan. Dosen pembimbingku sedang memeriksa berkas ketika aku masuk ke dalam ruangan.

“Sore, Pak.” aku sedikit membungkukkan tubuh untuk memberi hormat.

“Sore, nak Tania. Silakan duduk.”

Aku tersenyum dalam hati karena ternyata dosen pembimbingku masih ingat namaku. Padahal aku sudah lama tidak bimbingan.

Dosen pembimbingku bernama Pak Darmawan. Umurnya sepertinya tidak jauh dengan mamaku, sekitar 50 tahunan. Beliau termasuk ke dalam jajaran dosen senior yang dihormati oleh civitas kampus. Topik yang kuambil merupakan topik yang sesuai dengan keahlian beliau, jadi aku memilih beliau sebagai dosen pembimbingku.

“Ada apa, nak Tania?”

“Begini, Pak.” aku terdiam sejenak. “Duh, mulai dari mana ya…”

“Masalah tugas akhir?”

“Iya, Pak. Anu, saya…”

Pak Darmawan masih menunggu dengan sabar, sementara aku merutuki diriku sendiri yang tiba-tiba seperti ini.

“Ada masalah apa, nak Tania?” Pak Darmawan akhirnya bertanya sekali lagi.

“S-Saya tidak ada biaya untuk melakukan penelitian, Pak.” aku menunduk malu.

Pak Darmawan menghela nafas. “Saya pikir kamu ingin mengundurkan diri dari universitas ini. Sudah lama sekali kamu tidak bimbingan.”

“Maaf, Pak.” aku semakin menunduk. “Saya janji saya akan menyelesaikan skripsi saya kalau Bapak mau memberi keringanan.”

“Jelas saja kamu harus menyelesaikan skripsi semester depan kalau tidak mau di-DO.”

Oh, tidak, pikirku. Pak Darmawan pasti akan marah besar sebentar lagi.

“Begini sajalah.” Pak Darmawan membuka buku catatannya yang bersampul kulit. “Kalau kamu ganti topik, bagaimana?”

Aku takut-takut menengadahkan kepala untuk menatap Pak Darmawan. “G-Ganti topik, Pak?”

“Iya, ganti topik.” Pak Darmawan membuka lembar-lembar catatannya. “Jadi kamu tidak perlu melakukan penelitian di lab.”

“Maksud bapak?”

“Kamu ambil data dari proyek saya saja. Biaya perjalanan selama proyek saya tanggung karena kamu akan membantu saya dalam pengambilan data. Bagaimana?”

Aku terperangah. Alasanku memilih Pak Darmawan adalah agar aku tidak perlu terjun ke lapangan hanya untuk melakukan penelitian. Tahu begini, lebih baik aku memilih dosen pembimbing lain saja.

“Bagaimana, nak Tania?”

Terdesak, aku mengiyakan tawaran Pak Darmawan. “I-Iya Pak, ganti topik saja.”

“Ya sudah, bagus.” Pak Darmawan menutup kembali buku catatannya. “Saya harus mengoreksi berkas ujian dulu. Kamu datang saja ke rumah saya nanti malam pukul sembilan. Alamatnya nanti saya WA.”

“Baik, Pak.”

Mobilku berhenti di sebuah rumah di komplek perumahan mewah. Turun dari mobil, aku memencet bel rumah bernomor 27 yang ada di hadapanku. Wah, ternyata boleh juga berkarir sebagai dosen yang menerima banyak proyek seperti Pak Darmawan.

Seorang lelaki yang kuperkirakan merupakan supir Pak Darmawan membukakanku pagar.

“Mau ketemu Bapak ya, neng?” tanyanya.

“Iya.” jawabku sambil tersenyum manis. “Bapaknya ada?”

“Ada di dalam.” lelaki itu balas tersenyum padaku. “Mobilnya mau saya bantu parkirin, neng?”

“Boleh Pak. Makasih ya.”

Setelah mengambil tas dari dalam mobil, aku berjalan menuju pintu rumah Pak Darmawan yang saat itu tidak tertutup.

“Eh, nak Tania. Masuk sini.”

“Iya, Pak.”

Berbanding terbalik dengan kebiasaannya di kampus, Pak Darmawan terlihat lebih santai di rumahnya.

“Sebentar ya, saya ambil minum dulu.”

“Eh nggak usah Pak, saya nggak haus.”

“Gak apa-apa, santai aja sama Bapak.”

Pak Darmawan kemudian pergi ke dapur, sementara aku melihat-lihat ke sekeliling ruang tamu. Aku baru tahu ternyata Pak Darmawan punya tiga orang anak yang semuanya laki-laki.

“Silakan diminum, nak Tania.” Pak Darmawan menaruh dua gelas sirup di hadapan kami.

“Terima kasih Pak.”

Demi kesopanan, aku meneguk minumanku sedikit, lalu menaruh gelasnya kembali di meja.

“Jadi bagaimana Pak tentang topik saya?”

“Sebenarnya begini, nak Tania. Lokasi proyek saya ini ada di Sulawesi Utara. Untuk mencapai lokasi proyek saya, kita harus menempuh perjalanan delapan jam dari bandara dengan menggunakan mobil. Belum lagi kalau ternyata hujan, perjalanan bisa jadi lebih lama. Kita juga tidak menginap di hotel, tapi di rumah-rumah warga.” Pak Darmawan menjelaskan. “Nak Tania mau?”

Mendengar kata-kata itu, kepalaku pusing. Akan jadi apa aku nantinya jika aku harus ke pelosok seperti itu?

“Tidak ada pilihan lain, Pak?”

“Lah kan nak Tania sendiri yang bilang kalau tidak punya uang untuk penelitian di lab.”

“Iya Pak, maksud saya, selain itu…”

“Sebenarnya sih ada yang lebih gampang, kamu mau nggak?”

“Kalau lebih mudah, saya mau Pak.”

“Begini.” Pak Darmawan tiba-tiba berpindah tempat duduk ke sebelahku.”Kamu udah pernah nge-seks belum?”

“Maaf, Pak?”

Mungkinkah aku salah dengar?

“Kamu udah pernah nge-seks belum?”

“P-Pak, m-maaf Pak, saya—”

“Mau lulus nggak?” suara Pak Darmawan meninggi.

“M-Mau Pak.”

“Nih, saya kasih pilihan yang paling gampang. Tapi jawab dulu pertanyaan saya tadi. Kamu udah pernah ngentot belum?”

Aku terkaget-kaget dengan Pak Darmawan yang tiba-tiba saja berkata vulgar seperti itu. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa seseorang yang kuhormati sebagai dosen akan berkata seperti itu padaku.

“I-Iya Pak.”

“Jawab yang bener.”

“Udah pernah Pak. Udah pernah.”

“Udah pernah apa?”

“N-Nge-seks.”

Pak Darmawan tersenyum mesum. “Udah Bapak duga, kamu tuh lonte.”

“Eh enggak Pak, saya—“

“Kalau bukan lonte kenapa udah berani ngentot sebelum nikah?” Pak Darmawan mendekatkan mukanya pada mukaku. “Mana kamu nggak punya pacar. Ngentot sama siapa kamu?”

Sialan. Tahu dari mana Pak Darmawan kalau aku nggak punya pacar tiga tahun terakhir?

“Jawab Bapak. Ngentot sama siapa kamu?”

“S-Sama… Sama temen Pak.” jawabku pelan.

Aku tidak sepenuhnya berbohong. Keperawananku bahkan diambil oleh mantan FWB-ku dua tahun lalu, bukan oleh mantan pacarku. FWB tergolong ke dalam hitungan teman, kan?

“Oh sama temen. Enak ya temen doang dikasih jatah.”

Aku mulai merinding saat tangan Pak Darmawan mulai merayap ke pahaku.

“Pak, jangan Pak. Saya nggak mau.”

“Nggak mau? Nggak mau kamu bilang?” Pak Darmawan tiba-tiba saja mencengkram daguku dengan kuat. “Nggak mau gara-gara saya tua? Hah?”

“Ampun Pak, ampun.” aku berkata dengan susah payah.

Tanganku berusaha melepaskan cengkraman tangan Pak Darmawan, tapi tenaganya sangat kuat.

“Gilang! Bagas! Bantu Bapak.”

Aku panik. Pak Darmawan barusan memanggil dua orang lelaki yang bahkan aku tidak tahu siapa. Aku masih berusaha berontak saat dua orang lelaki yang sebaya denganku menghampiri kami.

“Pegangin ini lonte. Bawa ke kamar.”

“J-Jangan Pak! Pak Darmawan!”

Aku berusaha menghindar dari dua orang tersebut sebelum tersadar akan sesuatu.

“B-Bagas?”

“Iya, Tania. Ini gue. Nyesel dulu mutusin gue?”

Itu Bagas, mantan pacarku yang dulu kuputuskan tiba-tiba secara sepihak. Aku yang kaget hanya bisa berontak sambil berteriak-teriak walaupun rasanya mustahil seseorang akan menyelamatkanku. Tubuhku yang kecil diseret paksa oleh ketiganya ke dalam sebuah kamar tidur berukuran besar.

“Nah, sekarang iket tuh lonte di kursi.”

Aku merinding sejadi-jadinya. Dosen pembimbingku yang selama ini aku hormati kini sedang melecehkanku. Lelah karena meronta dan berteriak-teriak, aku mulai menangis.

“Jangan iket gue! Gue mau pulang!”

“Diem lo lonte!” suara Bagas meninggi sambil tetap mengikat kedua pergelangan tanganku erat-erat dan menyatukannya dengan kursi. Sementara itu, orang yang kuyakini sebagai Gilang berusaha menekan tubuhku hingga aku terduduk dan tidak bisa berdiri. Mereka berdua lalu mengikat kakiku di kaki-kaki kursi sehingga pahaku yang hanya dibalut oleh rok mulai terekspos.

“Bagus. Kalau gini kan lebih cocok.”

Aku menangis sesenggukan. Bukannya aku tidak suka seks, aku hanya tidak mau kalau harus dipaksa seperti ini. Apalagi Pak Darmawan sudah berumur, pasti rasanya tidak enak kalau aku harus berhubungan seks dengannya.

“Kaget kenapa ada Bagas?” Tanya Pak Darmawan.

Aku tidak menjawab.

“Ditanya tuh jawab, bego!” kali ini Gilang yang bersuara.

“Udah deh, biar cepet, gue cerita aja.” Bagas kembali bersuara. “Abis putus dari lo, gue kenalan ama cewe yang juga temennya Gilang. Katanya lo jadi mahasiswi bimbingan bokapnya Gilang, ya udah gue sekalian cerita aja seberapa murahannya lo ke dia. Gak salah tuh lo ngewe sama orang yang bahkan bukan pacar lo? Selangkangan diobral gitu kaya barang jualan.”

Aku terdiam dengan muka memerah. Memang dulu aku sempat berkata pada Bagas agar tidak mengejar-ngejarku lagi dengan mengatakan bahwa aku sudah tidak perawan setelah putus dengannya. Tidak kusangka bahwa perkataanku akan menjadi bumerang hari ini.

“Emang barang jualan kali memek dia.” Gilang menimpali. “Liat aja tuh, mau ketemu bokap gue sok-sok pake rok segala. Biar gampang dibuka kali tuh.”

Hari ini aku memang sengaja mengenakan flared skirt selutut agar terkesan manis namun tetap sopan. Aku juga mengenakan blazer walaupun hanya memakai tank top sebagai dalaman. Tahu begini, lebih baik tadi aku pakai celana bahan saja.

“Jadi, Tania, sebenernya Bapak gak punya proyek buat ditawarin sama kamu.”

Otakku pusing, terlalu banyak hal yang harus aku cerna hari ini.

“Bapak butuh kamu buat jadi budak seks Bapak sama anak Bapak. Jadi, kamu gak usah buat skripsi. Bapak punya kenalan yang bisa ngebantu nulisin skripsi buat kamu. Tugas kamu cuma ngewe.”

Aku terperangah. Di satu sisi, aku senang karena aku tidak perlu mengerjakan skripsi. Di sisi lain, aku takut karena sepertinya Pak Darmawan memiliki fantasi seksual yang aneh-aneh.

“Bagaimana, nak Tania? Mau jadi budak seks Bapak?” tanya Pak Darmawan lembut.

Aku takut-takut melihat ke arah mereka bertiga. “B-Bagas?”

“Gue? Gue sih ogah ngentotin memek mantan murahan kaya lo.” Bagas mendecih meremehkan. “Lagian gue udah dapet duit dari Pak Darmawan karena udah ngasih informasi tentang lo.”

Oh, ternyata aku benar-benar dijual oleh mantanku. Dasar sialan.

“Bagaimana? Mau?”

“Bilang aja mau, udah. Gak usah jual mahal lo.” Gilang ikut-ikutan mengompori.

Dengan menahan malu, aku mengangguk pelan lalu menundukkan kepala.

“Jawab yang sopan, goblok!” Gilang tiba-tiba saja menampar pipiku.

“I-Iya. Gue mau.”

“Jawab yang bener!” kali ini Gilang menjambak rambutku hingga wajahku menengadah.

“I-Iya, gue mau jadi budak seks kalian berdua.”

“Nah, gitu dong.” Gilang menghempaskan jambakan rambutku sekaligus, membuatku hampir terhuyung ke arah depan.

“Kalau gitu, sekarang lo tanda tangan ini.” Bagas tiba-tiba menyerahkan selembar kertas dan sebuah bolpoin ke hadapanku. “Buruan!”

“T-Tangan gue—“

“Iya ini lagi gue lepas, bego.”

Gilang melepas sebelah ikatan tanganku dan menahan sebelah tanganku agar tidak lepas. Aku sempat membaca sekilas isi perjanjian yang disodorkan padaku. Intinya, perjanjian tersebut berisi pernyataan bahwa aku bersedia menjadi budak seks Pak Darmawan dan Gilang selama enam bulan dan tidak memberitahukan masalah ini pada orang lain. Perjanjian itu juga mengungkapkan bahwa aku bersedia hidupku diatur oleh mereka berdua. Ternyata mereka sudah mempersiapkan hal ini matang-matang.

Bagas menarik kertas tersebut dari hadapanku setelah aku selesai menandatanganinya. Dengan seringai licik, Bagas menatapku dengan tatapan meremehkan.

“Ada gunanya juga gue punya mantan lonte murahan kaya lo.” Bagas terkekeh. “Makasih duitnya. Gue cabut dulu.”

Setelah berpamitan dengan Pak Darmawan dan Gilang, Bagas keluar ruangan dengan berkas yang tadi kutandatangani. Mungkin dia berpikiran bahwa aku akan merebut berkas tersebut kalau-kalau berkas itu ditinggal di sini.

“Sekarang, lo udah resmi jadi lonte kita.” Gilang melepas seluruh tali yang mengikat tangan dan kakiku. “Buka semua baju lo!”

Aku yang gelagapan lalu berdiri dan mulai membuka bajuku perlahan-lahan. Dengan masih berat hati, aku melepaskan perlahan blazer yang menempel di tubuhku, lalu kubiarkan jatuh ke lantai. Setelahnya, aku menarik pelan tank top yang kugunakan ke atas kepala untuk kemudian kujatuhkan ke lantai. Ragu-ragu, aku membuka kait rok-ku tanpa menurunkan resletingnya.

“Buka buruan!”

Setelah mendengar Gilang berteriak, aku menurunkan resleting rok-ku dan membiarkan pakaian luar terakhirku jatuh ke lantai. Terdengar Pak Darmawan bersiul melihat tubuhku yang hanya dibalut bra dan celana dalam berwarna hitam.

“Mau nyari pelanggan tuh pake CD transparan renda-renda kaya gitu?”

Pak Darmawan dan Gilang tertawa meremehkanku yang hanya bisa menunduk. Harga diriku diinjak sehabis-habisnya. Jika tidak ingat tentang lulus kuliah, aku tidak sudi menjadi budak seks seperti ini.

“Nah, sekarang mau Bapak cek dulu puting sama memeknya.”

Pak Darmawan kemudian maju mendekatiku yang refleks beringsut mundur.

“Eit, jangan macem-macem ya.” Pak Darmawan kemudian meremas sebelah payudaraku yang masih terbungkus bra dengan keras, membuatku memekik. “Tinggal nurut aja kok sama perintah Bapak sama Gilang.”

“I-Iya Pak, maaf.”

“Mulai sekarang, jangan panggil saya ‘Bapak’.” Pak Darmawan menaikkan daguku agar menatap ke arahnya. “Panggil saya ‘Tuan’ dan panggil Gilang ‘Tuan Muda’. Ngerti kamu?”

“N-Ngerti Pa— Eh, Tuan.”

Aku merutuki diri sendiri yang bisa-bisanya salah sebut.

“Bego banget emang lonte kita Pa. Kudu banyak diajarin.” celoteh Gilang.

“Beres, nanti kita ajarin ini lonte bareng-bareng.”

Aku bergidik ngeri. Aku tidak habis pikir bagaimana keluarga Pak Darmawan bisa sebebas dan sevulgar ini.

“Aahhhh…”

Aku mendesah ketika tiba-tiba saja jari Pak Darmawan menyelusup masuk ke dalam bibir vaginaku yang telah banjir. Walaupun masih terhalang celana dalam, jari Pak Darmawan bisa dengan mudah memasuki lubang vaginaku tanpa hambatan yang berarti. Mengikuti naluri, aku sedikit membuka pahaku agar menjadi sedikit lebih lebar.

“Basah banget Lang. Ternyata dia suka dilecehin kaya gini.” Pak Darmawan tertawa seraya menggerak-gerakkan jarinya di dalam vaginaku. “Dengerin tuh desahannya.”

“Aahhh, ah, ah, geli, mmhhh…” aku meracau tidak karuan menikmati jari-jari Pak Darmawan yang bergerak lihai di dalam lubang vaginaku. “Ngghhh, lagi, geli. Mmmhhh…”

“Keenakan dia Pa.” Gilang membuka kaitan bra-ku sehingga bra-ku jatuh tanpa hambatan yang berarti. “Liat tuh putingnya, ngacung gitu.”

“Mmmhhh…”

Mau tidak mau, aku terbawa permainan Pak Darmawan dan Gilang yang melecehkanku. Vaginaku tidak berhenti berkedut saat mendengar kalimat-kalimat melecehkan yang tertuju padaku. Tangan Pak Darmawan masih bermain-main di vaginaku, sementara tangan Gilang asyik bermain di putingku. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku dibuat horny oleh perlakuan mereka berdua.

“Papa dulu aja yang nidurin, aku cicipin besok deh.” ujar Gilang yang menganggapku seperti barang yang bisa dicoba kapan saja.

“Mau ke mana kamu?” tanya Pak Darmawan.

“Biasa, nge-date.” Gilang melepaskan tangannya dari putingku. “Aku pergi dulu ya Pa.”

Setelah Gilang meninggalkan ruangan, hanya tersisa aku dan Pak Darmawan. Pak Darmawan masih juga memainkan lubang vaginaku yang sekarang sudah sangat banjir.

“Mmhhh masukin aja kontolnya.” aku meracau ketika aku merasa benar-benar keenakan dengan tangan lihai Pak Darmawan. “Masukin kontolnya Tuan, emmmhhhh.”

Pak Darmawan terkekeh. “Keenakan juga kan lu lonte.”

“Iya Tuan, Tania emang lonte mmhhh.” aku yang saat itu hanya memikirkan nafsuku kembali meracau tidak jelas. “Tania lontenya Tuan, ahhhh.”

Pak Darmawan sepertinya terpengaruh oleh ucapanku karena tangannya jadi bergerak sangat cepat.

“Aaahhh Tuan, aaahhh enak, enak banget, geli aahhh.” tubuhku menjadi lebih lengkung, menandakan bahwa aku sebentar lagi mencapai orgasme. “Keluar, keluar, aaahhhhhhh…”

Aku menggelepar di bawah tangan Pak Darmawan, dosen pembimbingku yang kini sedang menggerak-gerakkan jari tengahnya di dalam vaginaku.

“Gimana, enak?”

“Enak, Pa— Eh, Tuan. Enak Tuan.”

Aku masih menikmati sisa-sisa orgasmeku barusan ketika tiba-tiba saja Pak Darmawan mengangkat tubuhku dan melemparkanku ke atas kasur dan menyadarkanku atas sesuatu.

Oh, ini baru saja dimulai.


BERSAMBUNG ..

Tinggalkan Balasan